UKMRiau - Provinsi Riau berpotensi menjadi lokomotif dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), karena letaknya yang strategis di antara negara Malaysia dan Singapura serta memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) yang mumpuni.
Hal itu dikatakan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Provinsi Riau, Instiawati Ayus di sela – sela rangkaian kegiatan peringatan hari jadi Provinsi Riau ke 59, di Pekanbaru, Rabu (10/8/2016).
Dia mengatakan Riau siap dan mampu untuk unggul dalam menghasilkan dan menyediakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dan profesional.
"Bahkan secara kualitas sarjana dari Riau mampu berkompetisi, tetapi permasalahannya adalah banyak diantaranya yang tidak mau meningkatkan kemampuan dan keterampilan sesuai bidang dan ilmu masing-masing," jelasnya.
Diakui, sejak bebeapa tahun lalu, Thailand sudah belajar bahasa Indonesia, karena dari 600 juta MEA, sebanyak 250 juta diantaranya berada di Indonesia.
"Riau sebagai bagian dari Indonesia yang turut membentuk MEA bertujuan meningkatkan daya saing ASEAN agar bisa menyaingi Tiongkok dan India untuk menarik investasi asing, yang tujuan akhirnya untuk meningkatkan kesejahteraan," urianya.
Instiawati Ayus mengakui pembentukan pasar tunggal MEA memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara sehingga kompetisi semakin ketat.
"Masyarakat ekonomi ASEAN tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional, seperti dokter, pengacara, akuntan dan lainnya, yang selama ini masyarakat Riau sudah terbiasa dengan hal itu," urianya.
Disisi lain, mengingat selama ini Riau terkenal berkat sektor Migas dan perkebunan, namun membuat terobosan baru seiring dengan era MEA, Pemerintah Provinsi Riau mengandalkan sektor pariwisata berbasis budaya, sebagai salah satu andalan untuk meningkatkan pendapatan.
Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman mengaku terobosan baru yang tepat ditengah-tengah MEAadalah dengan mengangkat nama Riau melalui wisata berbasis budaya, karena MEA diwarnai puluhan juta masyarakat asean yang akan berpariwisata, baik berbasis olahraga maupun budaya.
"Riau memiliki potensi besar dalam bidang pariwisata, hanya saja untuk mengangkatnya perlu gencar dilakukan pemasaran, masih banyak wisata-wisata Riau yang belum dikenal masyarakat luas karena kurangnya promosi," ungkapnya.
Pemprov Riau mulai gencar mempromosikan pariwisata di Riau dengan konsep wisata berbasis budaya, sebab banyaknya lokasi tujuan wisata yang ada di Riau, maka pariwisata Riau akan maju dan berkembang.
"Selain itu banyak wisata unik dan purbakala yang ada di Riau, bahkan wisata bono yang ada di Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan merupakan seven ghosts di dunia yang menjadi tujuan surfing turis asing," tambahnya.
Dalam rangka mendorong usaha pengembangan sektor wisata yang berpotensi itu, dibutuhkan keseriusan dan konsep, sehingga dia optimis, karena Riau memiliki keunggulan di sektor pariwisata berbasis kebudayaan. (TS)
Sumber : images1.rri.co.id
Hal itu dikatakan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Provinsi Riau, Instiawati Ayus di sela – sela rangkaian kegiatan peringatan hari jadi Provinsi Riau ke 59, di Pekanbaru, Rabu (10/8/2016).
Dia mengatakan Riau siap dan mampu untuk unggul dalam menghasilkan dan menyediakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dan profesional.
"Bahkan secara kualitas sarjana dari Riau mampu berkompetisi, tetapi permasalahannya adalah banyak diantaranya yang tidak mau meningkatkan kemampuan dan keterampilan sesuai bidang dan ilmu masing-masing," jelasnya.
Diakui, sejak bebeapa tahun lalu, Thailand sudah belajar bahasa Indonesia, karena dari 600 juta MEA, sebanyak 250 juta diantaranya berada di Indonesia.
"Riau sebagai bagian dari Indonesia yang turut membentuk MEA bertujuan meningkatkan daya saing ASEAN agar bisa menyaingi Tiongkok dan India untuk menarik investasi asing, yang tujuan akhirnya untuk meningkatkan kesejahteraan," urianya.
Instiawati Ayus mengakui pembentukan pasar tunggal MEA memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara sehingga kompetisi semakin ketat.
"Masyarakat ekonomi ASEAN tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional, seperti dokter, pengacara, akuntan dan lainnya, yang selama ini masyarakat Riau sudah terbiasa dengan hal itu," urianya.
Disisi lain, mengingat selama ini Riau terkenal berkat sektor Migas dan perkebunan, namun membuat terobosan baru seiring dengan era MEA, Pemerintah Provinsi Riau mengandalkan sektor pariwisata berbasis budaya, sebagai salah satu andalan untuk meningkatkan pendapatan.
Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman mengaku terobosan baru yang tepat ditengah-tengah MEAadalah dengan mengangkat nama Riau melalui wisata berbasis budaya, karena MEA diwarnai puluhan juta masyarakat asean yang akan berpariwisata, baik berbasis olahraga maupun budaya.
"Riau memiliki potensi besar dalam bidang pariwisata, hanya saja untuk mengangkatnya perlu gencar dilakukan pemasaran, masih banyak wisata-wisata Riau yang belum dikenal masyarakat luas karena kurangnya promosi," ungkapnya.
Pemprov Riau mulai gencar mempromosikan pariwisata di Riau dengan konsep wisata berbasis budaya, sebab banyaknya lokasi tujuan wisata yang ada di Riau, maka pariwisata Riau akan maju dan berkembang.
"Selain itu banyak wisata unik dan purbakala yang ada di Riau, bahkan wisata bono yang ada di Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan merupakan seven ghosts di dunia yang menjadi tujuan surfing turis asing," tambahnya.
Dalam rangka mendorong usaha pengembangan sektor wisata yang berpotensi itu, dibutuhkan keseriusan dan konsep, sehingga dia optimis, karena Riau memiliki keunggulan di sektor pariwisata berbasis kebudayaan. (TS)
Sumber : images1.rri.co.id
Komentar
Posting Komentar