Pelaku UKM Wajib Memahami Filosofi Berbisnis. Bagi orang tua yang memiliki bayi, membelikan popok bayi adalah hal lumrah. Secara bisnis, pasar popok bayi saat ini masih tergolong cerah. Semakin banyak orang tua yang sadar akan pentingnya menjaga kebersihan sang bayi.
Disisi lain, rupanya muncul peluang pasar baru. Ditengah semakin panjangnya usia orang Indonesia, memunculkan pangsa pasar baru yakni pasar diapers untuk lanjut usia (lansia). Popok lansia kini mulai tumbuh. Produsennya juga mulai ramai. Teknologi yang dimanfaatkan relatif sama, menggunakan material yang mampu menyerap cairan dan ramah lingkungan.
Menurut saya, pelaku bisnis yang mampu melihat peluang dari berbagai potensi pasar yang ada, adalah luar biasa. Pasar diapers yang pada mulanya untuk bayi, kini mulai bergerak pada pasar lansia. Peluang seperti ini akan banyak didepan mata, namun hanya segelintir orang yang berani menangkapnya.
Bahkan, ada sebagian orang yang melihat peluang hanya sekedar impian. Sudah memimpikan, namun belum berani untuk memulai mewujudkan mimpi tersebut.
Banyak orang yang rajin bermimpi, karena mimpi tidak dilarang dan gratis. Namun jika semuanya sekadar mimpi lalu akan ini itu, tetapi semuanya masih diawang-awang, bukanlah sesuatu yang baik. Mimpi tersebut harus segera diturunkan ke bumi. Bumikanlah mimpi yang Anda miliki.
Saya mengutip tulisan Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya dalam bukunya Great Spirit Grand Strategy (Gramedia, 2013) yang mengulas tentang bagaimana mewujudkan impian menjadi kenyataan.
Arief Yahya menulis berdasarkan pengalamannya sebagai CEO Telkom bahwa Working Spirit yang berlaku di Telkom untuk menjadi Always The Best merupakan interseksi antara Imagine, Focus & Action yang disingkat dengan IFA.
Arief Yahya memulai dengan Imagine yaitu kemampuan berimajinasi dan bermimpi untuk menghasilkan visi jauh ke depan. Lalu, Focus yang bermakna kemampuan kita untuk mengutamakan yang utama atau melakukan alokasi sumber daya.
Kemudian terakhir, Action yaitu kemampuan untuk mengeksekusi visi sehingga menghasilkan kinerja yang mengagumkan. Untuk melakukan eksekusi program dalam mencapai visi, kita membutuhkan kemampuan analisis rasional sekaligus kekuatan dan daya tahan fisik yang memadai. Tanpa keduanya mustahil program-program yang sudah dicanangkan bisa dieksekusi dengan baik.
Terinspirasi dari konsep IFA tersebut, maka dalam artikel kali ini saya akan berbagi beberapa hal yang dapat diimplementasikan bagi pelaku UKM dengan mengacu pada konsep Belief – Behavior – Business , sebagai berikut :
1. BELIEF
Belief sama seperti IMAGINE, sesuatu yang tidak terbatas dan tidak terukur (not measureable).
Penuh dengan makna untuk sebuah tujuan (intent). Ini menyangkut sesuatu yang kita yakini. Bisnis selalu dimulai dari keyakinan bahwa langkah pijakan pertama akan menjadi pijakan awal untuk pijakan selanjutnya.
Jika Anda tidak merasa yakin akan kesuksesan di masa depan, ada baiknya segera lakukan evaluasi agar tidak menuai kegagalan dikemudian hari. Silahkan memimpikan sesuatu kedepannya. Lalu dari impian tersebut menjadi sebuah keyakinan akan sukses dimasa depan.
Kembali ke contoh kasus pada tulisan di atas, bahwa bisnis popok lansia juga memiliki prospek cerah. Pelaku usaha yang bergerak untuk menciptakan, memproduksi hingga mendelivery ke pasar popok lansia tersebut, pastilah sangat meyakini bahwa para lansia juga butuh popok untuk membantu kebersihan dirinya.
2. BEHAVIOUR
Faktor berikutnya adalah Behaviour. Hal ini memiliki kesamaan makna dengan FOCUS, dimana harus terukur (measurable) dan sudah dalam bentuk tugas (task).
Impian hanyalah akan jadi sekedar mimpi yang berkelebat diatas sana, jika tidak pernah diturunkan kedalam bentuk aksi nyata. Disinilah pentingnya keberanian untuk memulai apa yang menjadi impian.
Dari sejak kecil, anak-anak diajarkan untuk membuat cita-cita setinggi langit. Namun seiring dengan waktu, akan kelihatan mana anak yang berani membuktikan cita-citanya sejak dulu.
Faktor keberanian untuk membumikan impian menjadi pembeda atau behaviour khas bagi seseorang leader maupun wirausahawan dibanding yang lainnya.
Mungkin pada saat awal, impian membuat popok lansia yang aman terkendala oleh faktor material dan teknologi. Sehingga produksinya agak terlambat dibanding popok bayi. Pada tahap pertama, popok lansia hanya digunakan di Rumah Sakit, namun kini telah menjadi gaya hidup bagi para lansia.
3. BUSINESS
Business bentuk lain dari ACTION karena sudah memiliki sasaran (target) dan juga sudah dalam bentuk program kerja yg terukur (measurable).
Setelah impian, lalu dibumikan kedalam bentuk aksi nyata, kini saatnya dituangkan ke pasar. Impian tidak hanya dalam bentuk menciptakan prototype atau model.
Aksi nyata sudah saatnya dituangkan kedalam bisnis. Apakah produk yang diciptakan sudah sesuai dengan target pasar yang diinginkan atau tidak. Ini yang menjadi poin penting, seberapa besar impian yang diangankan dan diyakini, lalu dibumikan kedalam bentuk behaviour dan terakhir pembuktiannya dalam bentuk aktifitas bisnis.
Mengingat target pasar lansia, tentu faktor kemudahan menggunakan popok lansia harus diperhatikan. Faktor higienis harus menjadi point tak terlupakan, serta faktor harga juga menjadi penting untuk menyasar pasar lansia yang pada umumnya adalah sudah bukan usia produktif.
Disisi lain, rupanya muncul peluang pasar baru. Ditengah semakin panjangnya usia orang Indonesia, memunculkan pangsa pasar baru yakni pasar diapers untuk lanjut usia (lansia). Popok lansia kini mulai tumbuh. Produsennya juga mulai ramai. Teknologi yang dimanfaatkan relatif sama, menggunakan material yang mampu menyerap cairan dan ramah lingkungan.
Menurut saya, pelaku bisnis yang mampu melihat peluang dari berbagai potensi pasar yang ada, adalah luar biasa. Pasar diapers yang pada mulanya untuk bayi, kini mulai bergerak pada pasar lansia. Peluang seperti ini akan banyak didepan mata, namun hanya segelintir orang yang berani menangkapnya.
Bahkan, ada sebagian orang yang melihat peluang hanya sekedar impian. Sudah memimpikan, namun belum berani untuk memulai mewujudkan mimpi tersebut.
Banyak orang yang rajin bermimpi, karena mimpi tidak dilarang dan gratis. Namun jika semuanya sekadar mimpi lalu akan ini itu, tetapi semuanya masih diawang-awang, bukanlah sesuatu yang baik. Mimpi tersebut harus segera diturunkan ke bumi. Bumikanlah mimpi yang Anda miliki.
“Imagine everything and create it.... Don't let anyone bring it down !” (Muhammad Awaluddin)
Saya mengutip tulisan Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya dalam bukunya Great Spirit Grand Strategy (Gramedia, 2013) yang mengulas tentang bagaimana mewujudkan impian menjadi kenyataan.
Arief Yahya menulis berdasarkan pengalamannya sebagai CEO Telkom bahwa Working Spirit yang berlaku di Telkom untuk menjadi Always The Best merupakan interseksi antara Imagine, Focus & Action yang disingkat dengan IFA.
Arief Yahya memulai dengan Imagine yaitu kemampuan berimajinasi dan bermimpi untuk menghasilkan visi jauh ke depan. Lalu, Focus yang bermakna kemampuan kita untuk mengutamakan yang utama atau melakukan alokasi sumber daya.
Kemudian terakhir, Action yaitu kemampuan untuk mengeksekusi visi sehingga menghasilkan kinerja yang mengagumkan. Untuk melakukan eksekusi program dalam mencapai visi, kita membutuhkan kemampuan analisis rasional sekaligus kekuatan dan daya tahan fisik yang memadai. Tanpa keduanya mustahil program-program yang sudah dicanangkan bisa dieksekusi dengan baik.
Terinspirasi dari konsep IFA tersebut, maka dalam artikel kali ini saya akan berbagi beberapa hal yang dapat diimplementasikan bagi pelaku UKM dengan mengacu pada konsep Belief – Behavior – Business , sebagai berikut :
1. BELIEF
Belief sama seperti IMAGINE, sesuatu yang tidak terbatas dan tidak terukur (not measureable).
Penuh dengan makna untuk sebuah tujuan (intent). Ini menyangkut sesuatu yang kita yakini. Bisnis selalu dimulai dari keyakinan bahwa langkah pijakan pertama akan menjadi pijakan awal untuk pijakan selanjutnya.
Jika Anda tidak merasa yakin akan kesuksesan di masa depan, ada baiknya segera lakukan evaluasi agar tidak menuai kegagalan dikemudian hari. Silahkan memimpikan sesuatu kedepannya. Lalu dari impian tersebut menjadi sebuah keyakinan akan sukses dimasa depan.
Kembali ke contoh kasus pada tulisan di atas, bahwa bisnis popok lansia juga memiliki prospek cerah. Pelaku usaha yang bergerak untuk menciptakan, memproduksi hingga mendelivery ke pasar popok lansia tersebut, pastilah sangat meyakini bahwa para lansia juga butuh popok untuk membantu kebersihan dirinya.
2. BEHAVIOUR
Faktor berikutnya adalah Behaviour. Hal ini memiliki kesamaan makna dengan FOCUS, dimana harus terukur (measurable) dan sudah dalam bentuk tugas (task).
Impian hanyalah akan jadi sekedar mimpi yang berkelebat diatas sana, jika tidak pernah diturunkan kedalam bentuk aksi nyata. Disinilah pentingnya keberanian untuk memulai apa yang menjadi impian.
Dari sejak kecil, anak-anak diajarkan untuk membuat cita-cita setinggi langit. Namun seiring dengan waktu, akan kelihatan mana anak yang berani membuktikan cita-citanya sejak dulu.
Faktor keberanian untuk membumikan impian menjadi pembeda atau behaviour khas bagi seseorang leader maupun wirausahawan dibanding yang lainnya.
Mungkin pada saat awal, impian membuat popok lansia yang aman terkendala oleh faktor material dan teknologi. Sehingga produksinya agak terlambat dibanding popok bayi. Pada tahap pertama, popok lansia hanya digunakan di Rumah Sakit, namun kini telah menjadi gaya hidup bagi para lansia.
3. BUSINESS
Business bentuk lain dari ACTION karena sudah memiliki sasaran (target) dan juga sudah dalam bentuk program kerja yg terukur (measurable).
Setelah impian, lalu dibumikan kedalam bentuk aksi nyata, kini saatnya dituangkan ke pasar. Impian tidak hanya dalam bentuk menciptakan prototype atau model.
Aksi nyata sudah saatnya dituangkan kedalam bisnis. Apakah produk yang diciptakan sudah sesuai dengan target pasar yang diinginkan atau tidak. Ini yang menjadi poin penting, seberapa besar impian yang diangankan dan diyakini, lalu dibumikan kedalam bentuk behaviour dan terakhir pembuktiannya dalam bentuk aktifitas bisnis.
Mengingat target pasar lansia, tentu faktor kemudahan menggunakan popok lansia harus diperhatikan. Faktor higienis harus menjadi point tak terlupakan, serta faktor harga juga menjadi penting untuk menyasar pasar lansia yang pada umumnya adalah sudah bukan usia produktif.
Komentar
Posting Komentar